Latest

Monday, May 02, 2011

40 Kemuliaan Selawat Kepada Nabi SAW dan Kelebihan Bagi Orang Yang Mengamalkannya


Rasullulah SAW bersabda: "Shalawat kalian kepadaku itu merupakan pengawal bagi do'a kalian, perolehan keridha'an Tuhan kalian dan pembersih amal-amal kalian." (H.R. Al-Dailamy RA dari Amirul Mu'minin Ali, karramullahu wajhahu).

Nabi SAW bersabda: "Hiasilah ruang perternuan kalian dengan bershalawat kepadaku. Sesungguhnya bacaan shalawat kalian kepadaku itu dapat menjadi cahaya di Hari Kiamat." (H.R. Al-Dailami RA dari lbnu Umar RA).

Nabi SAW bersabda pula: "Sesungguhnya Allah memiliki para Malaikat yang bertebaran di muka bumi yang bertugas menyarnpaikan kepadaku shalawatnya orang dari umatku yang bershalawat kepadaku." (Dikeluarkan oleh Al-Darulquthny RA dari lmam Ali KW).

Antara selawat (shalawat) yang ringkas ialah:   Allahumma sholli a'laa Sayyidina Muhammad wa a'laa ali Sayyidina Muhammad (ya Allah kurniakanlan rahmat ke atas Junjungan Besar Nabi Muhammad dan ke atas keluarga Junjungan Besar Nabi Muhammad).



Berikut ini diketengahkan 40 manfaat yang didapat dari selawat (shalawat) dan salam kepada Sayyidina Muhammad SAW yang banyak disebut oleh para ulama, khususnya Allamah lbnul -Qayyim dan Al-Hafidz lbnu Hajar Al-Haitsamy antara lain:

1. Mematuhi perintah Allah SWT.
2. Bershalawat kepada Nabi SAW adalah sesuai dengan perintah Allah SWT (di dalam Al Qur’an), meskipun berbeda makna antara shalawat yang dari kita (umat Nabi Muhammad SAW) dan shalawat yang dari Allah SWT. Shalawat yang dari kita berarti doa dan permohonan, sedangkan shalawat yang dari Allah SWT berarti pujian dan pemuliaan.
3. Sesuai dengan yang dilakukan oleh para malaikat.
4. Orang yang bershalawat satu kali mendapat balasan sepuluh shalawat dari Allah SWT.
5. Orang yang bershalawat beroleh peningkatan derjat sepuluh kali.
6. Baginya dicatat sepuluh kebajikan.
7. Dihapus sepuluh amal keburukannya.
8. Doanya dapat diharap akan terkabul, kerana shalawat akan memanjatkan doanya dan menghadapkannya kepada Allah Rabbul’alamin. Sebelum orang yang berdoa bershalawat lebih dahulu, doanya berhenti terkatung-katung di antara bumi dan langit.
9. Dapat menjadi sarana (cara) untuk mendapat syafaat Nabi SAW Jika shalawat itu disertakan doa mohon wasilah atau diucapkan tersendiri.
10. Shalawat merupakan sarana untuk beroleh ampunan dosa.
11. Shalawat juga merupakan sarana bagi hamba Altah SWT untuk beroleh pertolongan-Nya agar tercukupi keperluannya.

12. Selawat merupakan sarana yang dapat mendekatkan seorang hamba Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW pada Hari Kiamat. 


Sabda Rasulullah (S.A.W.) yang bermaksud: “Sesungguhnya manusia yang paling utama denganku pada hari kiamat ialah yang paling banyak berselawat ke atasku”. 
[Hadith riwayat Imam Tirmizi daripada Abdullah bin Mas’ud r.a]

13. Berfungsi sebagai sedekah bagi orang yang kesulitan hidup.
14. Shalawat juga merupakan sarana untuk beroleh pertolongan Allah SWT agar tercukupi keperluan-keperluannya.
15. Shalawat juga merupakan sarana untuk mendapat rahmat Allah SWT dan doa malaikat.
16. Shalawat berfungsi sebagai zakat dan thaharah.
17. Shalawat merupakan sarana yang mendatangkan kabar gembira (tabsyir)  bagi hamba Allah SWT sebelum wafat, bahwa ia akan masuk surga. (Demikianlah disebut oleh Al-Halidz Abu Musa, berikut hadisnya, di dalam kitab yang ditulisnya).
18. Shalawat juga merupakan sarana yang dapat menghindarkan hamba Allah SWT dari ketakutan hebat pada Hari Kiamat. (di dalam kitab yang ditulisnya pula).
19. Shalawat dan salam merupakan sebab untuk mendapat balasan jawaban yang sama dari Nabi SAW.
20. Shalawat juga merupakan sarana bagi hamba Allah SWT untuk dapat mengingat kembali hal-hal yang terlupakan.
21. Shalawat juga merupakan sarana bagi terwujudnya suasana yang baik di dalam suatu majlis (pertemuan). Selain itu shalawat juga akan meniadakan perasaan menyesal pada Hari Kiamat.
22. Shalawat juga merupakan sarana untuk terhindar dari kemelaratan.
23. Pada saat-saat seorang hamba Allah SWT teringat kepada Nabi SAW lalu segera mengucapkan shalawat dan salam kepada Beliau, ia akan terjauhkan dari watak kikir.
24. Orang yang menderita kehinaan karana tidak mengucapkan shalawat dan salam pada saat mendengar nama Nabi SAW disebut-sebut, penderitaannya itu akan dapat disingkirkan dengan jalan banyak-banyak bershalawat kepada Rasu lallah SAW.
25. Shalawat akan mengantarkan orang yang selalu mengucapkannya ke syurga, sedangkan orang yang meninggal-kan shalawat ia akan tersesatkan dari jalan ke surga.
26. Shalawat akan menyelamatkan kepengapan suatu majlis (pertemuan) yang di dalamnya tak disebut-sebut Allah dan Rasul-Nya, atau majlis yang di dalamnya tidak terdengar suara yang berpuji syukur kepada Allah SWT dan bershalawat kepada Rasul-Nya.
27. Shalawat merupakan sebab bagi timbulnya pancaran sinar cahaya pada saat hamba Allah SWT yang selalu mengucapkannya sedang berjalan di atas shirath. (Hal itu dikemukakan juga oleh Abu Musa dan lain-lain).
28. Shalawat merupakan kesempurnaan kalam (khutbah dan lain sebagainya) yang diawali dengan puji syukur kepada Allah SWT dan shalawat kepada Rasul-Nya.
29. Shalawat merupakan sarana bagi seseorang untuk meninggalkan wataknya yang bengis.
30. Shalawat juga merupakan sarana melestarikan pujian baik dari Allah SWT kepada hamba-Nya di kalangan para penghuni langit dan bumi. Sebab, orang yang bershalawat berarti ia mohon kepada Allah SWT agar berkenan memuji, menghormati dan memuliakan Beliau. Kerana bersalawat itu merupakan amal yang baik, maka sudah tentu orang yang mengamalkannya beroleh ganjaran pahala yang sama.
31. Shalawat juga merupakan sarana bagi yang mengucapkannya untuk memperoleh berkah, baik dalam hal amal kebajikannya maupun dalam hal usianya. Bahkan juga merupakan sebab untuk mernperoleh kepentingan-kepentingannya. Sebab, orang yang mengucapkan shalawat berarti ia berdoa mohon kepada Allah SWT, Tuhannya, agar Allah SWT berkenan melimpahkan berkah kepada Rasul-Nya beserta segenap keluarga Beliau. Doa seperti itu adalah mustajab (terkabul) dan orang yang berdoa pasti beroleh balasan yang sama.
32. Shalawat  juga merupakan sarana untuk memperoleh rahmat Allah SWT. Berbagai pendapat mengenai "rahmat" di kalangan sebagian ulama, tetapi pendapat yang pasti benar ialah bahwa orang yang mengucapkan shalawat beroleh rahmat.
33. Shalawat juga merupakan sarana untuk mengabadikan kecintaan kepada Rasulallah SAW bahkan untuk menambah dan melipat gandakannya. ltu merupakan salah satu ikatan keimanan yang tanpa itu (ucapan shalawat dan salam kepada Nabi SAW tidak lengkap. Seorang hamba Allah SWT jika makin sering menyebut-nyebut orang yang dicintainya, dihadirkannya didalam hati, dibayangkan kebaikannya dan kebenaran ajaran-ajaranya yang membuat hamba Allah SWT itu tertarik kepadanya; tentu semuanya itu akan melipat gandakan kecintaan dan menambah kerinduannya kepada orang yang dicintainya, sehingga kecintaannya itu sungguh-sungguh menguasai seluruh isi hatinya. Sebaliknya, jika ia merasa tidak perlu mengingat atau menyebut-nyebut orang yang dicintainya,
tidak mau menghadirkannya di dalam hati dan mengenang kebaikan-kebaikannya dengan sepenuh hati dan pikiran, tentu kecintaannya di dalam hati menjadi berkurang. Bagi orang yang mencintai sesuatu tidak ada yang lebih menyenangkan hatinya daripada melihat sesuatu yang dicintainya. Dan tidak ada yang disukai selain menyebut dan mengingat serta mengenang kebaikan-kebaikan pihak yang dicintainya. Jika perasaan demikian itu makin kuat berakar di dalam hati, tentu akan meluncur dari ujung lidahnya berbagai kata pujian. Bertambah dan berkurangnya pujian itu tergantung pada bertambah dan berkurangnya kecintaan yang bersemayam di dalam hati.
34. Shalawat kepada Nabi SAW adalah sarana untuk menumbuhkan kecintaan Beliau kepada orang yang bershalawat. Jika demikian halnya maka semakin banyaknya shalawat diucapkan oleh seseorang tentu semakin besar pula kecintaan Nabi SAW kepadanya.
35. Shalawat juga merupakan sarana bagi turunnya hidayat kepada hamba Allah SWT yang mengucapkannya dan sarana pula untuk menghidupkan hati serta perasaannya. Oleh kerana itu semakin banyak ia mengucapkan shalawat, hati dan perasaannya tentu semakin kuat dikuasai oleh kecintaan kepada Baginda. Dengan demikian, di dalam hatinya tidak terdapat sekelumit pun keinginan untuk menentang perintah dan ajaran-ajaran  Beliau. Bahkan sebaliknya, semua perintah dan ajaran-ajaran Beliau akan tergores dan terpateri di dalam hatinya, selagi ia dalam keadaan bagaimanapun selalu mengucapkannya. la akan meraih hidayat, keberuntungan dan berbagai pengetahuan tentang rahsia agama. Makin tajam pandangan mata hatinya serta makin kuat dan mendalam ma'rifat serta pengertiannya mengenai hal itu, tentu akan semakin sering dan lebih banyak lagi mengucapkan shalawat kepada Nabi SAW.
36. Shalawat itulah yang menjadi sebab dikemukakannya nama orang berzikir mengucapkannya ke hadapan Nabi SAW. Yaitu sebagaimana yang Beliau SAW nyatakan sendiri, "Shalawat kalian akan dihadapkan kepadaku."  Dan sesuai pula dengan pernyataan Beliau yang menegaskan, "Di pusaraku Allah menugasi sejumlah malaikat untuk menyampaikan kepadaku salam dari umatku." Cukuplah bagi hamba Allah SWT mendapat kemuliaan disebut namanya di hadapan Rasulallah SAW.
37. Shalawat pun merupakan sarana bagi hamba Allah SWT untuk dapat berjalan mantap di atas shirath hingga melepasinya (melewatinya) dengan selamat. Sebuah hadits dari Abdurrahman bin Samrah yang dituturkan oleh Sa'id bin Al-Musayyab, mengenai soal mimpinya Nabi SAW, sebagai berikut, "Kullihat seorang dari umatku berjalan di atas shirath, kadang meranghak-rangkak dan kadang bergelantung, kemudian datanglah shalawat (yang diucapkannya dahulu ketika hidup di dunia) Ialu membangunkannya hingga dapat berdiri dan berjalan dengan kakinya, IaIu ia diselamatkan oleh shalawatnya." (Diriwayatkan oleh Abu Musa Al-Madiny didalam At-Targhib Wat-Tarhib, sebagai hadits hasan jiddan (amat baik).
38. Shalawat kepada Nabi SAW adalah penunaian kewajiban yang paling sedikit atas hak Allah SWT dan berbagai nikmat yang dikaruniakan kepada kita dan yang memang'wajib kita syukuri. Padahal sebenarnya yang wajib kita syukuri tidak terhitung banyaknya. Kita tidak sanggup menghitungnya, tidak berkeinginan dan tidak berhasrat untuk mengetahui berapa jumlah seluruhnya. Namun, Allah SWT ridha menerima dari hamba-hamba-Nya sedikit syukur sebagai kewajiban yang harus ditunaikan.
39. Di dalam shalawat kepada Nabi SAW tercakup dzikrullah (mengingat-menyebut keagungan-Nya), dzikru-Rasulihi (mengingat-menyebut Rasul-Nya), dan permohonan kepadaNya. 
40.  Dengan shalawat kepada Nabi SAW, maka Allah SWT akan memberi ganjaran pahala kepada hamba yang berhak menerimanya. Sebagaimana telah kita sedari, bahwa Allah SWT memperkenalkan kepada kita Asma-Nya, Sifat-sifat-Nya; dan telah pula menunjukkan kepada kita jalan apa yang harus kita tempuh untuk memperoleh keridhaan-Nya. Juga Allah SWT telah memberi pengertian kepada kita tentang apa yang akan kita peroleh setelah kita sampai dan menghadapkan diri kepada-Nya. Semuanya itu tercakup di dalam semua segi keimanan. Bahkan tercakup pula di dalam ikrar tentang pengangkatan Rasul-Nya, tentang tashdiq (pembenaran)-Nya, tentang pemberitahuan semuanya itu kepada hamba-hambaNya dan tentang kecintaan-Nya kepada Rasul SAW yang diutus oleh-Nya menyampaikan kebenaran agama-Nya kepada umat manusia. Tak diragukan lagi bahwa semuanya itu adalah pokok-pokok keimanan. Shalawat kepada Nabi SAW juga mencakup pengertian seorang hamba mengenai hal-hal tersebut, termasuk tashdiq-nya (pengakuannya atas kebenaran sebagai Nabi dan Rasul utusan Allah) dan kecintaanya kepada Beliau. Dengan demikian maka ucapan shalawat kepada Nabi Muhammad SAW termasuk amalan yang lebih utama.

---
Consultant-Speaker-Motivator: www.ahmad-sanusi-husain.com 
Alfalah Consulting - Kuala Lumpur : www.alfalahconsulting.com
Islamic Investment Malaysia: www.islamic-invest-malaysia.com
Pelaburan Unit Amanah Islam: www.unit-amanah-islam.com

Saturday, April 30, 2011

Biodata Imam Muslim




Biodata Imam Muslim

Nama penuh beliau ialah Muslim Ibn al-Hajjaj al-Qusyairi al-Naisaburi. Digelar Abu al-Husain.

- Lahir di Naisabur (salah sebuah tempat di Iran) pada tahun 206 Hijrah.

- Mula menuntut ilmu khususnya dalam bidang hadith ketika umurnya belasan tahun.

- Merantau jauh dalam perjalanan menuntut ilmu khususnya hadith.

- Beliau mempelajari ilmu daripada ramai guru. Di antara guru-gurunya yang terkenal ialah Ahmad Ibn Hanbal, al-Bukhari, Ishaq Ibn Rahuyah / Rahawaih, Abu Hatim al-Razi, Abu Zur’ah, al-Darimi dan lain-lain lagi.

- Beliau juga mempunyai ramai pelajar-pelajar yang datang dari segenap tempat untuk menuntut ilmu daripadanya. Di antara pelajar-pelajarnya yang terkenal ialah al-Tirmidzi dan Ibn Khuzaimah.

- Beliau dipuji oleh ramai ulama termasuklah guru-gurunya sendiri seperti Ishaq Ibn Rahuyah yang menyatakan kekagumannya terhadap Imam Muslim sejak beliau masih menjadi penuntut lagi.

- Salah seorang gurunya bernama Muhammad Ibn Basyar telah menyenaraikannya sebagai salah seorang daripada empat ’Hafiz’ dalam hadith. Mereka ialah – al-Bukhari, Abu Zur’ah, al-Darimi dan Muslim. Ketiga-tiga pakar hadith yang disebut bersamanya (al-Bukhari, Abu Zur’ah dan al-Darimi) juga sebenarnya adalah guru-guru Muslim. Ini jelas menunjukkan kehebatan beliau walaupun masih bergelar ‘penuntut’ ilmu hadith.

- Setelah merantau ke pelbagai tempat dan menulis lebih kurang 300 000 hadith (termasuk kata-kata sahabat dan tabiin), beliau kembali ke tanah airnya dan memulakan penulisan buku Sahih Muslim pada tahun 235H dan selesai menulisnya pada tahun 250H.

- Selain buku Sahih Muslim, beliau turut mengarang buku-buku lain dan antara yang masih kekal dicetak pada masa kini adalah seperti buku al-Tamyiiz yang mengumpulkan hadith-hadith yang dhaif dan cara ulama hadith salaf mengenal pasti kedhaifan pada hadith, al-Kuna wa al-Asma’, al-Munfaridat wa al-Wihdan dan lain-lain lagi.

- Beliau merupakan seorang ahli perniagaan dan mempunyai ladang yang menjadi sumber pendapatannya untuk menuntut ilmu.

- Meninggal pada tahun 261H. Semoga Allah merahmati beliau.



Sumber rujukan:

1- Syarh ’Ilal al-Tirmidzi – Ibn Rajab al-Hanbali.

2- Muqaddimah analisis buku al-Ilzamat wa al-Tatabbu’ – Syeikh Muqbil al-Wadi’e.

3- Manhaj al-Muhaddithin – Dr. Sa’d al-Humayyid.

4- Masodir al-Sunnah wa Manahijuha – Dr. Hatim al-Syarif.

5- Al-Ta’rif Bi al-Imam Muslim wa Kitabihi al-Sahih – Dr. Abd. Rahman al-Sudais


----------  
CEO / Consultant: http://ahmad-sanusi-husain.com 
Alfalah Consulting: http://alfalahconsulting.com 
Islamic investment: http://islamic-invest-malaysia.com

Biodata Imam Bukhari


Biodata Imam Bukhari



- Nama penuh beliau ialah Muhammad Ibn Ismail bin Ibrahim Ibn al-Mughirah al-Ju’fi, al-Bukhari. Gelarannya ialah Abu Abdillah. 

- Dilahirkan dalam keadaan yatim di Bukhara (Uzbekistan) pada tahun 194 Hijrah. Bapanya merupakan salah seorang ahli hadith yang pernah berguru dengan Imam Malik (179H) dan juga Abdullah Ibn al-Mubarak (181H). 



- Mula merantau mencari ilmu pada 210 hijrah ke seluruh pusat-pusat ilmu pada waktu itu seperti Mekah, Khurasan, Iraq, Mesir dan Syria.

- Beliau terkenal dengan hafazan yang begitu kuat dan mantap. Ketika ditanya tentang rahsia ingatan yang kuat, beliau menyebut bahawa rahsianya ialah keinginan yang kuat serta sentiasa mengulang-ulang maklumat yang dihafaz.

- Beliau mempunyai ramai guru dan murid. Di antara gurunya yang terkenal ialah Ali Ibn al-Madini (234H), Ahmad Ibn Hanbal (241H), Yahya Ibn Ma’in (233H) dan Ishaq Ibn Rahuyah/Rahawaih (238H).

- Di antaranya muridnya yang terkenal ialah Imam Muslim (256H), Imam atTirmizi (279H) dan lain-lain lagi.

- Di antara buku beliau ialah al-Jami’ al-Musnad al-Sahih atau lebih popular dengan nama Sahih al-Bukhari, al-Tarikh al-Kabir (biodata periwayat hadith), al-Adab al-Mufrad (hadith-hadith tentang adab dan akhlak) serta lain-lain lagi.

- Hampir kesemua ahli hadith pada zaman beliau telah menobatkan beliau sebagai seorang ahli hadith yang hebat dan dipercayai. Namanya terkenal di seluruh negara Islam.

- Di antara kehebatannya ialah beliau mewarisi kehebatan guru-gurunya dalam kemampuannya untuk menilai dan menapis hadith bagi membezakan antara yang sahih dan yang tidak.

- Salah seorang gurunya iaitu Muhammad Ibn Bassyar menganggap al-Bukhari sebagai salah seorang daripada 4 pakar hadith terbaik pada waktu itu bersama-sama dengan Muslim, Abu Zur’ah dan juga al-Darimi.

- Imam Muslim pernah berkata kepada al-Bukhari: Aku bersaksi bahawa tidak ada di dunia ini seseorang seperti kamu.

- Beliau bukan sekadar hebat dalam bidang ilmu sahaja, namun beliau juga adalah seorang tentera yang mahir terutama dalam memanah. Bentuk tubuh badan beliau digambarkan sebagai seorang yang kuat dan sasa oleh sesiapa yang mengenalinya.

- Oleh kerana kehebatannya didalam ilmu hadith, terdapat sebahagian daripada masyarakat pada zaman beliau yang merasa dengki lalu melakukan pelbagai tuduhan yang tidak benar terhadap peribadinya.

- Akhirnya, beliau wafat di sebuah kampung di Samarqand pada 256 Hijrah pada usia 62 tahun.


Sumber rujukan:

1- Syarh ’Ilal al-Tirmidzi – Ibn Rajab al-Hanbali.

2- Hayat al-Bukhari – Syeikh Jamaluddin al-Qasimi.

3- Manhaj al-Bukhari Fi Tashih al-Ahadith wa Ta’liliha – Dr. Abu Bakr Kafi.

4- Muqaddimah analisis buku al-Ilzamat wa al-Tatabbu’ – Syeikh Muqbil al-Wadi’e.

5- Manhaj al-Muhaddithin – Dr. Sa’d al-Humayyid.

6- Masodir al-Sunnah wa Manahijuha – Dr. Hatim al-Syarif.

7- Manhaj al-Naqd Fi Ulum al-Hadith – Dr. Nuruddin Itr.

----------  
CEO / Consultant: http://ahmad-sanusi-husain.com 
Alfalah Consulting: http://alfalahconsulting.com 
Islamic investment: http://islamic-invest-malaysia.com

Friday, April 29, 2011

Pengurusan Kewangan Islam



Pengurusan dan perancangan adalah suatu yang amat mustahak dalam semua urusan kehidupan lebih-lebih lagi yang berkaitan dengan harta atau kewangan. Kegagalan mengurus dan merancang sebenarnya seseorang itu mengurus dan merancang untuk kegagalan. Kegagalan merancang harta atau kewangan dengan bijak dikenal pasti antara punca mudahnya seseorang itu terperangkap dengan pelbagai masalah dalam kehidupan.

Seseorang yang mempunyai perancangan dalam menguruskan kewangannya akan memperoleh gambaran yang jelas tentang kedudukan kewangan terkininya, memberi hala tuju yang tepat mengenai matlamat kewangan yang ingin dicapai yang akhirnya akan membolehkan seseorang itu mencapai matlamat yang diharapkan secara lebih efektif.

Islam sebagai agama yang sempurna mengajar umatnya agar sentiasa mempunyai perancangan dalam menguruskan hal ehwal kehidupan mereka. Hal ini dapat dilihat menerusi al Quran dan sunnah. Antaranya firman Allah dalam surah Yusuf ayat 67.

Pengajaran daripada ayat di atas antara lain ia menyentuh tentang persoalan perancangan di mana Allah menjelaskan bahawa dalam menguruskan kehidupan jangan bergantung kepada satu pendekatan semata-mata tetapi perlulah mempelbagaikan pendekatan dan strategi. Dan setelah segala persiapan dan perancangan dilakukan maka hendaklah bertawakal kepada Allah.

Ayat 47-48 di dalam surah yang sama Allah menegaskan pentingnya perancangan sebelum menghadapi atau melakukan sesuatu malah perlu bijak dalam menguruskan kehidupan agar tidak susah di kemudian hari.

Di dalam ayat 9, surah al-Nisa' juga Allah tegaskan perkara yang sama bahawa perlunya mempunyai perancangan untuk masa depan keluarga dan hendaklah bijaksana dalam menguruskan harta/kewangan. Sebagaimana dalam surah al Hasyr ayat 18.

Ayat ini cukup jelas menyentuh tentang kepentingan perancangan dalam kehidupan, kerana masa depan bergantung kepada perancangan kita hari ini selain daripada ketentuan Allah.

Harta dalam Islam

Dalam Islam mengurus dan membelanjakan harta adalah antara amanah Allah. Ia adalah satu keperluan yang bertujuan mencapai kehidupan yang diberkati. Perspektif yang tepat terhadap harta akan memastikan seseorang itu mencapai bahagia di dunia dan di akhirat menerusi hartanya.

Harta mempunyai kedudukan yang sangat mulia di sisi Islam. Islam menggalakkan umatnya memiliki, menghasil dan menggunakan harta dengan baik dan bijaksana.

Dari kaca mata Islam, harta adalah alat untuk menjamin keselesaan hidup manusia di dunia dan kebahagiaan di akhirat. Ia juga merupakan wasilah untuk mencapai takwa. Allah juga menganugerahkan harta kepada manusia untuk menguji manusia itu sama ada bersyukur atau sebaliknya sebagaimana yang ditegaskan oleh Allah dalam surah al-Munafiqun ayat 9.

Di samping mengajar manusia agar mempunyai perspektif yang jelas terhadap harta, Islam juga mengajar manusia agar mempunyai pandangan yang betul terhadap kehidupan. Hal ini penting bagi memastikan kehidupan mereka bermatlamat dan arah tuju yang jelas.

Islam menggariskan agar umat manusia berusaha bersungguh-sungguh untuk membangun dan membina kehidupan yang bahagia dan harmoni. Ini dijelaskan dalam surah Hud ayat 61.

Islam juga menyeru agar menjadikan kehidupan ini dapat memberi manfaat kepada orang lain sebagaimana hadis Rasulullah SAW yang bermaksud: "Sebaik-baik kamu adalah yang paling banyak memberi manfaat".

Di dalam ajaran Islam, dunia adalah tempat sementara yang hanya sebagai jambatan untuk ke akhirat, dunia sebagai tempat bercucuk tanam dan akhiratlah tempat untuk menuainya. Walaupun dunia bersifat sementara, Islam dengan pelbagai kaedah dan pendekatan mengajar umat manusia supaya mempunyai status sosial dan ekonomi yang baik.

Oleh itu, Islam memerintahkan supaya harta dan kehidupan diuruskan dengan baik dan bijaksana. Jika sebaliknya ia akan menjadi faktor keruntuhan manusia dan kemurkaan Allah seperti dalam surah Saba' ayat 15 - 16 dan surah al-Nisaa' ayat 10 dan 161.

Konsep pengurusan harta

Secara umumnya ada lima aspek atau elemen utama pengurusan harta secara Islam. Pertama, Penghasilan Harta (Wealth Creation). Sebagai seorang Muslim yang sejati, Islam menggalakkan umatnya mencari harta dan tidak hanya pasrah pada qada' dan qadar seperti di dalam surah al-Juma'ah ayat 10.

Kedua, Pengumpulan Harta (Wealth Accumulation) atau dengan erti yang lain bermaksud pengembangan harta. Adalah tidak wajar jika harta yang kita ada disimpan begitu saja tanpa mengembangkannya. Pengembangan harta boleh dilakukan melalui simpanan dan pelaburan di institusi kewangan.

Malah Islam menggalakkan umatnya untuk membuat simpanan serta melaburkannya sebagaimana dalam surah Yussuf ayat 47-48.

Ketiga, Perlindungan Harta (Wealth Protection). Setiap manusia harus mempunyai matlamat dalam kehidupan dan pasti salah satu daripadanya ialah untuk dapat kehidupan yang selesa dan terjamin dari segi kewangan sepanjang hidup. Sebagai jaminan hidup di dunia ini selain mempunyai simpanan dan harta yang mencukupi, diri kita dan harta kita juga harus dijaga daripada sebarang musibah dan perkara-perkara yang tidak diingini.

Keempat, Pengagihan Harta (Wealth Distribution). Islam memperuntukan beberapa cara atau kaedah untuk pengagihan harta sebelum atau selepas mati. Antara instrumen perancangan harta adalah wakaf, wasiat, hibah dan sebagainya.

Kelima, Penyucian Harta (Wealth Cleansing). Sebagai seorang Muslim kita tidak sewenang-wenang membelanjakan atau mempergunakan mengikut kehendak dan hawa nafsu. Ini kerana setiap harta ada hak-hak yang tertentu untuk dibahagikan seperti berzakat dan amal jariah kita seperti sedekah. Ini terbukti dalam surah al-Baqarah ayat 195.

Pengurusan kewangan Islam

Pengurusan kewangan yang bijak itu adalah yang dapat mengimbangi perbelanjaan dan pengurusan hutang, pelaburan yang mengikut syariah dan pendapatan yang mendapat keberkatan. Perlu diingatkan bahawa merancang dan mengurus ini merupakan sunnah.

Dari sudut semasa, industri perancangan kewangan telah lama wujud di Malaysia tetapi bukan dalam bentuk satu disiplin profesional seperti yang ada sekarang. Diperakui oleh Suruhanjaya Sekuriti (SC) sejak tahun 2004 apabila SC menjadikan perancangan kewangan sebagai satu aktiviti yang memerlukan lesen.

Perancangan kewangan adalah satu aktiviti yang dikawalselia oleh undang-undang. Individu yang ingin menjadi "Perancang Kewangan Bertauliah" perlu mendapat lesen daripada SC (Jadual 2, Capital Markets and Services Act 2007).

Secara lebih mendalam, perancangan kewangan itu merujuk kepada 'Perancang Kewangan' sebagai "seseorang yang membuat analisis kedudukan kewangan individu lain dan mencadangkan perancangan pelan kewangan agar individu berkenaan mencapai matlamat dan objektif kewangannya." (Suruhanjaya Sekuriti).

Secara ringkas, perancangan kewangan Islam itu ialah "satu proses di mana matlamat kewangan keseluruhan individu digunakan untuk membangun dan melaksanakan pelan yang holistik untuk mencapai matlamatnya yang mematuhi syariah dan akhirnya mendapat keberkatan daripada Allah" (Mahadzir Ahmad, majalah VISI, Bilangan 95)

Perancangan kewangan yang didasarkan kepada Islam matlamat akhirnya menjadikan aspek kewangan sebagai satu wasilah mencapai hasanah di dunia dan di akhirat. Justeru, untuk memastikan matlamat ini dapat dicapai maka pelan perancangan perlu mengambil kira perbelanjaan untuk kemaslahatan sendiri seperti keperluan jasmani dan rohani, perbelanjaan untuk kemaslahatan orang lain seperti nafkah, sedekah dan juga perbelanjaan untuk kemaslahatan umum seperti membina masjid, hospital dan sebagainya.

Secara yang lebih sistematik perancangan kewangan dari perspektif Islam perlu mengambil kira komponen-komponen berikut; pengurusan kredit dan aliran tunai, pengurusan risiko dan perancangan takaful, perancangan pelaburan Islam, perancangan zakat dan cukai , perancangan persaraan dan perancangan harta pusaka dan wakaf.

Secara umumnya, ada dua aspek utama yang dititikberatkan oleh Islam dalam hal-hal yang bersangkutan dengan pengurusan harta, iaitu bagaimana harta itu diperoleh. Ia mestilah menerusi kaedah pemilikan yang sah dan jual beli, pelaburan secara Islam, hadiah dan sebagainya.

Aspek kedua adalah bagaimana harta itu dibelanjakan, sama ada untuk kebaikan ataupun untuk perkara-perkara yang dilarang Allah. Perkara ini dapat dilihat menerusi sabda Rasulullah SAW yang bermaksud: "Tidak akan berganjak kedua-dua kaki anak adam pada hari kiamat sehingga ditanya tentang umurnya pada apa ia dihabiskan, tentang usia mudanya pada apa digunakan dan tentang hartanya dari mana ia diperoleh dan bagaimana ia dibelanjakan dan tentang ilmunya pada apa ia diamalkan?"

Oleh itu, aspek utama yang perlu diambil kira di dalam perancangan kewangan Islam adalah memperoleh keberkatan. Harta yang melimpah ruah tidak membawa apa-apa erti jika tidak ada padanya keberkatan, malah harta boleh menjadi fitnah, boleh menjadikan seseorang itu sentiasa berasa tidak cukup sehingga sanggup melakukan apa sahaja termasuklah rasuah, penyelewengan dan sebagainya.

Keberkatan

Sebaliknya, harta yang berkat walaupun sedikit akan membawa ketenangan dan memberikan kesan yang baik dalam segenap kehidupan.

Keberkatan bermaksud mendapat restu, keredaan atau rahmat dari Allah SWT. Bagi mendapat keberkatan dan rahmat tersebut, sewajarnya kita mematuhi serta mentaati setiap perintah Allah.

Namun keberkatan boleh hilang jika melakukan perkara yang menyalahi apa yang digariskan oleh Allah SWT seperti terlibat dengan riba dan melakukan dosa serta mengabaikan solat.

Kesimpulannya, untuk menikmati kehidupan yang selesa dan bahagia kita perlulah mempunyai perancangan kewangan yang sempurna. 

---
Consultant-Speaker-Motivator: www.ahmad-sanusi-husain.com 
Alfalah Consulting - Kuala Lumpur : www.alfalahconsulting.com
Islamic Investment Malaysia: www.islamic-invest-malaysia.com
Pelaburan Unit Amanah Islam: www.unit-amanah-islam.com

Thursday, April 28, 2011

10 Sebab Penghapus Dosa


Nash-nash al-Qur`an dan Sunnah telah menunjukkan bahwa hukuman dosa (siksa) dapat dihapuskan dari seorang hamba dengan sepuluh sebab berikut ini:



1. Taubat Nasuha.


Yaitu taubat yang sebenar-benarnya taubat, maka ia (taubat nasuha) dapat meleburkan dosa sebelumnya. Dan Allah Subhanahu Wata'ala Maha menerima taubat hamba-hambaNya yang mau bertaubat kepadaNya. 



Dan orang yang bertaubat dari segala dosa bagaikan orang yang tidak memiliki dosa. Allah Subhanahu Wata'ala berfirman, artinya, “Dan Dialah yang menerima taubat dari hamba-hambaNya dan memaafkan kesalahan-kesalahan dan mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. asy-Syura: 25).

Allah Subhanahu Wata'ala juga berfirman, artinya, “Orang-orang yang mengerjakan kejahatan, kemudian bertaubat sesudah itu dan beriman; sesungguhnya Tuhan kamu, sesudah taubat yang disertai dengan iman itu adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. al-A’raf: 153).

2. Beristighfar.

Yaitu memohon ampunan kepada Allah Subhanahu Wata'ala. Sesungguhnya Allah akan mengampuni hamba-hambaNya yang meminta ampunan (beristighfar) kepadaNya. Allah Subhanahu Wata'ala berfirman, artinya, “Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan dan menganiaya dirinya, kemudian mohon ampun kepada Allah, niscaya ia mendapati Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. an-Nisa`: 110).

Allah Subhanahu Wata'ala juga berfirman, artinya, “Dan Tidaklah (pula) Allah akan mengazab mereka, sedang mereka meminta ampun.” (QS. al-Anfal: 33).

Begitu juga Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda tentang apa yang beliau riwayatkan dari Rabbnya, artinya, “Wahai anak cucu Adam (manusia) seandainya dosa-dosamu setinggi awan di langit, lalu kamu meminta ampun kepadaKu, niscaya Aku akan mengampuni dosa-dosamu.” (HR. at-Tirmidzi, dan dia berkata, “Hadits hasan shahih.”

Allah Subhanahu Wata'ala juga berfirman dalam hadits qudsi, artinya, “Wahai hamba-hambaKu, sesungguhnya kalian melakukan kesalahan (dosa) di waktu malam dan siang hari, sedangkan Aku lah yang dapat mengampuni semua dosa, maka mohon ampunlah kalian kepadaKu niscaya Aku akan mengampuni dosa kalian.” (HR. Muslim).

3. Kebaikan-kebaikan menghapuskan dosa-dosa.

Seperti shalat, shadaqah, puasa, haji, membaca al-Qur`an, berdzikir kepada Allah, berdo’a, beristighfar, berbakti kepada kedua orang tua, menyambung silatur rahim, dan lain-lain. Allah Subhanahu Wata'ala berfirman, artinya, “Dan dirikanlah sembahyang itu pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bahagian permulaan daripada malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat.” (QS. Huud: 114).

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, “Shalat-shalat yang lima waktu, jum’at ke jum’at, ramadhan ke ramadhan dapat meleburkan dosa diantara keduanya apabila dosa-dosa besar dijauhkan.” (HR. Muslim).

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam juga bersabda, “Dan ikutilah perbuatan buruk/ kejahatan dengan perbuatan yang baik, niscaya dia menghapuskannya.” (HR. at-Tirmidzi dan dia menghasankannya).

Sesungguhnya satu kebaikan dilipat gandakan balasannya sampai sepuluh kali lipat, adapun keburukan akan dibalas yang serupa dengannya. Maka celakalah bagi orang yang berguguran (kalah) satu persatu dari sepuluh sebab tersebut.

4. Doa orang-orang yang beriman.

Maksudnya mereka memohon ampunan (kepada Allah) untuk orang yang beriman (lainnya) baik ketika hidup maupun setelah mati dan khususnya pada saat ketidak beradaannya (tanpa sepengetahuan orang yang didoakan) dan begitu juga doanya atas saudara-saudaranya yang telah meninggal dunia.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, “Doa seorang muslim untuk saudaranya yang tidak hadir (tanpa sepengetahuannya) adalah mustajab, di samping kepalanya terdapat malaikat, setiap dia berdoa untuk saudaranya dengan kebaikan, malaikat yang diutus berkata, ‘Amin, dan bagimu sepertinya (seperti orang yang didoakan).” (HR. Muslim).

5. Perbuatan-perbuatan baik yang dilakukan/ diniatkan untuk si mayyit .

Seperti shadaqah; puasa; haji; membebaskan budak; dan yang lainnya. Para ulama berpendapat, “Amal shalih apa pun (yang dapat mendekatkan diri kepada Allah) yang dia kerjakan dan dia peruntukkan pahalanya untuk seorang muslim baik yang masih hidup ataupun yang telah meninggal, maka hal itu bermanfaat baginya.” Dan yang lebih utama adalah mencukupkan dalam hal tersebut pada apa yang dijelaskan/ ditetapkan oleh nash-nash (al-Qur`an dan Sunnah).

6. Syafa’at Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam dan selainnya.

Maksudnya adalah bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dan selain beliau akan memberikan syafa’at kepada orang-orang yang berbuat dosa pada hari Kiamat dengan izin Allah Subhanahu Wata'ala sebagaimana hal tersebut ditetapkan di dalam hadits-hadits shahih.

7. Musibah-musibah.

Dengannya lah Allah Subhanahu Wata'ala menghapuskan dosa-dosa atau kesalahan-kesalahan (yang dilakukan oleh hamba-hambaNya) di dunia sebagaimana yang telah dijelaskan dalam ash-Shahihain, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam; bersabda,
“Tidaklah orang yang beriman ditimpa penyakit yang terus menerus dan tidak pula rasa cemas, rasa sedih, rasa susah dan rasa sakit, sampai-sampai duri yang menusuk kecuali Allah menghapuskan dengannya dari dosa-dosa/ kesalahan-kesalahannya.” (HR. al-Bukhari dan Muslim).

8. Apa yang didapatkan oleh seorang hamba ketika di dalam kubur.

Yakni berupa fitnah, himpitan liang kubur, kengerian, maka ini semua di antara yang dapat menghapuskan dosa-dosa.

9. Rasa takut, kesusahan serta kengerian terhadap kedahsyatan hari kiamat.

10. Rahmat Allah Subhanahu Wata'ala

Sesungguhnya karena rahmat Allah Subhanahu Wata'ala, semua hamba mendapatkan maaf dan ampunanNya tanpa sebab, maka Dia lah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang, sebagaimana Dia berfirman, artinya, “Dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu.” (QS. an-Nisa`: 48 dan 116).

Dan Dia lah yang Maha Penyayang kepada hamba-hambaNya melebihi sayangnya seorang ibu kepada anak-anaknya dan sungguh rahmat Allah Subhanahu Wata'ala meliputi segala sesuatu.(Abu Nabiel).

---
Consultant-Speaker-Motivator: www.ahmad-sanusi-husain.com 
Alfalah Consulting - Kuala Lumpur : www.alfalahconsulting.com
Islamic Investment Malaysia: www.islamic-invest-malaysia.com
Pelaburan Unit Amanah Islam: www.unit-amanah-islam.com

Please Join my facebook's fan page